KKM PERUMPERA 4 Squad (Part 1)

img_20160720_175745

Sebuah nostalgia.

Di awal tahun 2017 ini, tepatnya di bulan Januari akhir, aku memutuskan untuk kambek di dunia blogging. Nggak ada yang ngasih “selamat datang” emang, tapi bodo amat.

Post pertama yang aku buat (klik di sini), kontennya itu gelap banget. Bukan. Bukan karena aku buatnya pas lagi mati lampu, tapi emang suasana hati lagi mendung.

Berhubung lagi banyak waktu senggang–yang harusnya diisi dengan ngerjain skripsi tapi malah nggak–akhirnya aku bernostalgia saja.

Tepatnya di pertengahan tahun lalu, matkul yang sebenarnya nggak mau aku ambil ini harus kutempuh juga.

Ya, KKM. Kuliah-Kerja-Mantai.

Nggak deng.

Yang benar Kuliah-Kerja-Maen. Eh, Kuliah-Kerja-Mahasiswa. Halah.

Iyak, KKM ini termasuk ke dalam matkul wajib. Sebagai mahasiswa, KKM adalah kewajiban yang harus diemban dan dijalankan sebagai bentuk pengamalan Tri Dharma perguruan tinggi yang ketiga yaitu, pengabdian. Pengabdian kepada masyarakat.

KKM ini memberi kita pelajaran sekaligus pengalaman bagaimana rasanya terjun langsung di masyarakat.

KKM itu sendiri punya beberapa jenis. Di antaranya ada KKM Tematik, KKM Kependudukan, KKM PUPR, KKM Revolusi Mental, KKM Pesantren, dsb.

KKM Tematik adalah KKM yang umum dan paling banyak dipilih oleh mahasiswa. Kenapa? Karena kuotanya banyak. Nggak kayak jenis KKM lain yang kuotanya sedikit.

Sejak pendaftaran online KKM akan dibuka, para mahasiswa sudah memasang ancang-ancang, bahkan mengaku ada yang rela nggak tidur demi mendapatkan KKM yang diinginkan. Tak dipungkiri KKM Kependudukan jadi KKM terfavorit. Soalnya, KKM yang bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) ini sudah memiliki tujuan dan program kerja yang jelas pun terarah. Sesuai dengan nama lembaganya, proker besarnya sudah pasti menggalakkan program Keluarga Berencana (KB). Jadi, ingat slogan, “DUA ANAK LEBIH BAIK!”

Lalu, ada juga dana bantuan senilai 1,5jt (kalau nggak salah) yang sudah pasti akan dikucurkan saat kegiatan KKM berlangsung. Hm, gimana nggak tergiur, kan?

Sayangnya, kuota KKM Kependudukan sangat kecil cuma nerima 100 mahasiswa saja. Aku yang menggebu-gebu sejak semalam suntuk tapi gagal begadang demi meng-klik tautan pendaftaran KKM ini harus menelan pahitnya kehidupan.

Padahal masih terbilang pagi, pukul 07.30 sudah ada pemberitahuan kalau KKM sudah penuh.

Aaaak!

Kami tidak berjodoh.

Kala itu, KKM RevMen dan KKM Pesantren belum tersedia di portal akademik.

Baru ada tiga yang brojol; 1) KKM Kependudukan, 2) KKM PUPR, dan 3) KKM Tematik.

Opsi 1 gagal. Tersisa 2 opsi lagi.

Dilema menghadang. Ibaratnya kayak kamu harus milih, antara move on dari dia atau nggak.

Loh, emang ada hubungannya?

Adain aja, lah. Nggak ada yang nggak mungkin. Ngawur.

Tematik… atau… PUPR, ya?

Eh, PUPR? Apaan, tuh? Baru denger. Kataku dalam hati.

Teman-teman pun nggak ada yang tau, apa itu KKM PUPR? Nanya kakak senior pun, sama aja jawabannya: Nggak tau.

Dan, hasil dari pencarian google juga nggak terlalu memuaskan. Di sana cuma dijelaskan PUPR adalah lembaga dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat.

Walau agak amburegul (red: ambigu), tapi kuyakin KKM ini bakal mirip-mirip dengan Kependudukan–program kerja sudah tersedia dan dana bantuan, tentunya, hehe he he.

Setelah bergelut dengan waktu yang sedemikian panjang, akhirnya KKM PUPR kupilih dengan membaca basmalah.

(bersambung…)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s